Building Brand Equity through Marketing and IMC Programs – Case study: Teh Pucuk Harum

Teh Pucuk Harum

Teh Pucuk Harum merupakan produk kategori RTD (ready to drink) Tea dari Mayora. Mengutip informasi yang tertulis di halaman web Teh Pucuk Harum, produk ini memiliki keunggulan karena dibuat dari pucuk daun teh pilihan, bagian terbaik untuk membuat minuman teh. Untuk rasa, produk teh ini memadukan daun teh pilihan dan aroma jasmine untuk menciptakan rasa teh melati. Kemasan yang ditawarkan dengan ukuran 350 ml serta dikemas praktis, sehingga mudah dibawa kemana saja. Produk ini memanfaatkan teknologi canggih dalam proses produksi yaitu teknologi AST (Advanced Sterilizing Techmology). Proses pengolahan alami minuman ini menjamin rasa teh yang segar sama seperti minuman teh yang baru dibuat. Teh Pucuk Harum juga bebas dari bahan pengawet, namun demikian karena proses pembuatan dan pengemasan yang baik, minuman ini bisa tahan hingga 1 tahun. Value lain yang bisa ditawarkan produk ini adalah kealamian, karena teh Pucuk Harum terbuat dari bahan alami yang bebas pewarna dan pemanis buatan.

Produk ini diluncurkan di pasaran pada tahun 2011 dan kekuatan brandnya terus bertumbuh hingga tahun ini. Dalam 5 tahun peluncurannya, kekuatan brand produk ini telah berhasil melampaui beberapa kompetitor yang sebelumnya menguasai market share RTD Tea. Pada tahun 2016 Top Brand Index Teh Pucuk harum meningkat pesat enam kali lipat dari 2015 menyentuh score 24.8% atau selisih 9.0 % dari Teh Botol Sosro yang berada di urutan pertama.

tbi growth pucuk harum

(source: http://www.topbrand-award.com/top-brand-survey/survey-result/top_brand_index_2016_fase_1 )

Lanjutkan membaca “Building Brand Equity through Marketing and IMC Programs – Case study: Teh Pucuk Harum”

Business Model Innovation

Business Model

Business model menggambarkan bagaimana suatu entitas bisnis menciptakan, men-deliver, ataupun menangkap value dalam konteks ekonomi, sosial, budaya, ataupun bidang lainnya. Proses dari pengkonstruksian business model merupakan bagian dari strategi bisnis.

Merujuk pada jurnal dengan title “Reinventing your Business Model” dari Johnson, Christensen, dan Kagermann, business model terdiri dari empat elemen yang menciptakan dan memberikan value, yaitu customer value proposition, profit formula, key resources, dan key processes. Lanjutkan membaca “Business Model Innovation”

Innovative Strategic Leader Transforming from a Low-Cost Strategy to Product Differentiation Strategy

Gehani, R. R. (2013).“Innovative Strategic Leader Transforming From a Low-Cost Strategy to Product Differentiation Strategy”. Journal of Technology Management & Innovation. 8(2). 144-155.

Summary dan review oleh : Aswin M. Pratama

Artikel ini membahas tentang penggunaan strategi yang berfokus pada inovasi dan penciptaan value melalui product differentiation yang dilakukan berbagai perusahaan multinasional untuk memenangkan persaingan pasar dengan berbagai kompetitor, terutama dalam situasi menghadapi pesaing yang menerapkan low cost strategy dalam marketing produknya. Dengan latar belakang kondisi setelah resesi ekonomi yang terjadi pada 2008, berbagai perusahaan multinasional dihadapkan pada berbagai tantangan untuk mempertahankan bisnisnya, terlebih lagi dengan adanya gempuran produk-produk murah dari negara berkembang yang mulai merambah pasar internasional. Kondisi ini menyebabkan perusahaan multinasional yang berfokus pada low-cost strategy menjadi kurang bisa bertahan. Beberapa perusahaan mulai menjadi pionir dalam mengubah strategi bisnis mereka yang sebelumnya mengarah pada low-cost leadership strategy ke arah product differentiation strategy. Strategi ini memaksa perusahaan untuk mengembangkan inovasi dan kreatifitas dalam penjualan produknya. Dengan strategi ini penawaran utama yang diberikan ke pasar adalah value, bukan pada tingkat harga produk.

Lanjutkan membaca “Innovative Strategic Leader Transforming from a Low-Cost Strategy to Product Differentiation Strategy”

Brand Development Process – Case study: AQUA Splash of Fruit

Definisi dari brand yang dikemukakan American Marketing Association (AMA) adalah suatu nama, term, tanda, atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang dimaksudkan untuk memberikan identitas atas barang ataupun jasa dari suatu grup penjual dan untuk membedakannya dengan produk lain yang berkompetisi di market. Sehingga ketika marketer membuat nama baru, logo, ataupun symbol untuk suatu produk, maka sebenarnya dia telah membuat brand. Perbedaan antara brand dan produk adalah: produk merupakan sesuatu dengan fungsi yang bisa diberikan, sedangkan brand lebih menawarkan emosi. Brand tidak sekedar memenuhi fungsi, tetapi juga janji dan emosi. Dibandingkan mencintai sebuah produk, pada umumnya konsumen lebih kearah mencintai brand-nya.

AQUA & AQUA SPLASH OF FRUIT

Aqua merupakan suatu brand produk air mineral dalam kemasan yang diproduksi sejak tahun 1973 dan hingga saat ini masih menjadi market leader penjualan air mineral di Indonesia. Bisa dikatakan Aqua telah menjadi generic brand untuk air minum dalam kemasan. Aqua memiliki brand equity yang sangat baik di Indonesia. Dengan berbagai faktor pembentuknya seperti mendapatkan awareness yang baik di market, memiliki loyal customer yang kuat, maupun perceived quality yang baik serta asosiasi yang dihubungkan dengan brand sedimikian kuat, sehingga timbul asosiasi air mineral = aqua.

drivers-of-brand-equity

Image Source: Presentasi Strategic Brand Management, Introduction to Brand, by John Daniel Rembeth – Universitas Indonesia

Lanjutkan membaca “Brand Development Process – Case study: AQUA Splash of Fruit”

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai